Warning : Abal, gaje, EYD gak bener, OOC, AR , AU dan lain lain
RnR PLEASE!
“Karin-chan ayo ikut aku,” ajak anak
kecil berumur 5 tahun
“Kemana Kazune-chan,” tanya anak berambut brunette.
“Ayolah jangan banyak tanya.” Setelah itu anak bernama
lengkap Kujyou Kazune itu berlari dan diiringi Karin di belakang nya.
“Kazune-chan tunggu aku,” panggil Karin
berlari mengejar Kazune nya.
“Yeay aku sampai duluan,” ujar anak berambut kuning pucat
sembari melompat-lompat kegirangan di dekat sungai.
“Hahh Kazune-chan jahat!” rutuk Karin
mengembungkan pipinya
“Hei lihat itu.” Kazune langsung menunjuk kearah ikan-ikan yang berenang.
“Eh iya, ayo kita tangkap.” Karin pun berlari kearah sungai
itu dengan perasaan girang dan melupakan tentang Kazune yang meninggal kan nya
tadi.
“Yeay aku dapat.” Kazune mengangkat ikan yang ia dapat.
“Wah Kazune-chan hebat,” puji Karin melangkah
mendekati Kazune.
“Mau kita apakan ini?” Tanya Kazune mengalihkan pandangan
nya ke Karin.
“Ah lebih baik kita lepaskan saja, Kasian anak-anak ikan ini
pasti sedih kalau ibunya kita tangkap,” ujar Karin dengan polosnya. Kazune pun
langsung mengangguk iya saja. Wajar saja pola pikir mereka seperti itu, mereka
masih berumur 5 tahun jadi tak heran.
“Hahh aku sangat senang belsama mu Kazune-chan,”
ujar Karin masih cadel merebahkan badan nya kerumput-rumput hijau itu.
“Aku juga senang bersama mu Karin,” sahut Kazune duduk di
samping Karin.
Karin pun langsung membangunkan badanya dan duduk di samping
Kazune,
“Karin-chan.”
“Nani?”
“Kita harus berjanji kalau kita harus bersama selamanya ya,”
pinta Kazune dengan penuh harapan.
Karin tersenyum manis dan mengangguk ia.
“Janji.” Kazune mengacungkan jari kelingking nya.
“Janji.” Karin pun langsung mengaitkan jari kelingking nya
dengan jari Kazune.
*Satu bulan setelah
itu*
“Kazune-chan maaf kan aku, tou-san
ada keljaan di lual kota, jadi aku halus ikut pindah ketempat tou-san,”
ujar Karin merasa bersalah.
“Tapi kau sudah berjanji kalau kita akan bersama selamanya.”
Kazune manutkan dahinya.
“Tapi yasudahlah, suatu hari nanti kita harus bersama lagi
ya,” sambung Kazune memegang pundak Karin.
Karin pun melihat kearah Kazune dan tersenyum lebar, “Iya.”
“Ayo Karin kita harus pergi sekarang,” ajak kaa-san.
“Sayonala Kazune-chan,” ujar Karin di balik jendela
pintu mobil.
“Sayonara Karin-chan.”
*sepuluh tahun
kemudian*
“Hei Kazune Kau sedang melamunkan apa?” tanya anak berambut
caramel itu berjalan di samping Kazune.
“Ahg.. a-aku tidak lagi melamun kok,” ujar Kazune sedikit
salah tingkah.
“Yakin?” tanya Micchi dengan raut cemas.
Kazune hanya mengangguk iya.
“Hm bagaimana kalau sekarang kita pergi ke pemancingan,”
usul Micchi.
“Hn ku rasa itu ide yang bagus mumpung sekolah libur untuk
hari ini.”
“Baik lah kalau begitu, ayo kita dulu-duluan sampai ketempat
pemancingan itu.” Setelah itu Micchi pun langsung berlari kearah yang di maksud
tadi.
“Hei kau curang, seenaknya saja kau duluan,” protes Kazune
berlari di belakang Micchi.
“Hosh hosh, Kau cukup tangguh juga Kazune,” ujar Micchi sambil
mengatur nafasnya.
“Hosh hosh, mangkanya
jangan pernah menantang aku hosh.” Kazune pun ikut mengatur nafasnya.
“Hah ayolah kita langsung saja masuk kedalam,”
Kazune duduk di tepi sungai itu lalu melempar kail pancing
nya begitu juga dengan Michhi yang bertingkah sama seperti temanya itu.
“Hei katanya disini diadakan saimbara.” Michhi membuka
pembicaraan.
“Aku tak tertarik.” tepis Kazune
“Hei ayolah dengar kan aku,” pinta Micchi dengan puppyeye miliknya.
“Tidak mau,” tolak Kazune
“Ka-“ ucap Micchi terpotong
ketika umpanya di makan oleh ikan, “Hei aku dapat,” ujar Micchi terus menerus
menarik ulurkan (?) tali pancing itu.
Kazune hanya mentap Micchi dengan datar, dan tak butuh waktu
lama Micchi dapat menuntaskan perkelahian(?) nya dengan ikan.
“Wah ikan yang kau dapat cukup besar,” puji orang-orang yang
melihat hasil tangkapan Micchi kecuali Kazune tak menanggapinya sama sekali.
Kini sepertinya umpan Kazune yang giliran di makan oleh
ikan, Kazune langsung berdiri dan menarik pancinganya itu. Hampir sepuluh menit
lebih Kazune bertahan menarik ikanya itu. Micchi pun turut serta membantu
Kazune dan akhirnya setelah pejungan nya Kazune mendapatkan ikan lele jumbo
terbesar di tempat itu.
“Hwahh K-Kazune kau mendapatkan nya.” Micchi langsung
terkagum-kagum melihatnya.
Kazune terduduk sembari mengatur nafas nya, tak lama setelah
itu Kazune mendekati hasil pancingnyaa dan melepaskan ikan itu kedalam sungai
itu lagi. Semua orang termasuk Micchi membelalak melihatnya.
“A-apa yang kau lakukan Kazune-san!”
“Hanya melepaskan nya,”
“Ta-tapi Kita bisa mendapatkan uang baka!” protes Micchi atas
perbuatan Kazune.
Kazune hanya memasang muka datar nya saja.
.
.
“Eh ada E-mail, dari siapa?” Tanya Kazune membuka
ponselnya sepulang dari
tempat pemancingan tadi.
Tiba-tiba bibir Kazune tersenyum ketika membaca siapa
pengirimnya.
From : Hanazono Karin
To : Kazune Kujyou
Subyek : aku akan
pulang
Hei Kazune-kun apa kabarmu baik? Aku harap baik.
Aku kan pulang ke Tokyo karena kedua orang tuaku mengizinkan ku mengunjungi mu
di sana, aku harap kau senang mendengar kabar kepulangan ku. Ohya aku penasaran
wajah mu sekarang seperti apa ya? Ah aku tak sabaran lagi. Tunggu aku besok ya
^^
Kazune pun tersenyum membaca isi E-mail itu, “Apa kau masih
cadel ya?” Tanya Kazune pada dirinya sendiri.
*esok harinya*
“Ohayou Kazune-san,”
sapa Jin.
“Ohayou mo,” sapa balik Kazune.
“He kau mau kemana? Baru saja kau masuk sudah mau pergi
lagi?” Tanya Yuki
“Hn aku hanya mau jalan-jalan sebentar,” jawab Kazune
setelah itu ia pergi meninggalkan kelasnya.
“Huh.” Kazune hanya menghela nafas sambil melihat kearah
jendela.
Tiba-tiba langkah
Kazune terhenti ketika melihat sebuah pintu lorong bawah tanah terbuka . Kazune
sedikit mengintip kedalam pintu itu. Tampak bayangan seseorang berjalan dari
bawah menuju keatas.
“Kazune-kun apa kah itu kau?”
“K-Karin,”
Orang itu berjalan sampai keluar pintu, terlihat oleh Kazune
ternyata seorang gadis yang pernah berjanji dengan nya dulu.
“Karin-chan, kenapa kau bisa di sini ini
dan kenapa kau tak beri tahuku kalau kau sudah disini,” tanya Kazune heran.
“Ehehehe ingin melihat-lihat saja, yah anggap saja ini
adalah sebuah kejutan,” ujar Karin tersenyum.
“Oh,” jawab Kazune singkat.
“Huh ternyata Kazune masih sama seperti dulu,” ujar Karin
mencibirkan bibirnya.
“Heheh Kau sepertinya sudah ada peningkatan, tak cadel
seperti dulu,” ejek Kazune
“Argg Kazune-kun lagi-lagi kau mengejekku,” rutuk
Karin.
“Hahah gomen gomen aku tak bermaksud
seperti itu, Hm bagaimana kalau aku temani mu jalan-jalan?” tawar Kazune
“T-tapi sebentar lagi bel berbunyi, apa kau tak masuk
kelas,” Tanya Karin.
“Tidak, hari ini para senior mempersiapkan untuk UN besok
jadi kami para junior tidak belajar,”
jelas Kazune.
“Oh kalau begitu baik lah,”
*Sungai dekat kuil*
“Wah tempat ini tidak berubah sama sekali.” Puji Karin
melihat tempat itu tak berubah sama sekali.
“Iya, hei aku akan menunjukkan sesuatu untuk. Tunggu sebentar.” Kazune berlari kecil kebelakang pohon besar
yang tak jau dari tempat itu. Kazune
kembali dengan membawa segenggam makanan ikan.
Dan menyebarkan nya kedalam air sungai itu. Para ikan ikan
berbondong-bondong berubutan makanan ikan itu. “Wah menggemaskan.”
“Hah senang nya satu hari ini bersamamu,” ujar Karin sembari
merentangkan tangan nya seakan merasakan angin menerpa tubuhnya.
Helaian rambut Karin kini terurai menetupi pipinya, Kazune
pun ingin menyingkap helaian rambut itu kebelakan kuping Karin. Namun Karin
mengelak .
“Ada apa Karin?” tanya Kazune keheranan atas tingkah Karin.
“A tidak aku cuma sedikit terkejut,” jawab Karin
“Owh.” Kazune menunduk .
“Hn Kazune sepertinya aku harus pergi.”
“Cepat sekali, tapi kita akan bertemu lagi kan?” Tanya
Kazune.
“Sepertinya tidak,” jawab Karin menundukkan kepalanya.
“Kenapa? Kau bilang kau akan tinggal disini?” Kazune
menautkan dahinya.
“Gomen na sai, aku tidak bisa menepati janji kita.” Air mata
Karin setetes demi setetes jatuh ke tanah.
“Kenapa? Apa kau di jodoh kan?” Tanya Kazune
“Kenapa? Apa kau di jodoh kan?” Tanya Kazune
Karin hanya menggeleng.
“Lantas,”
“Lima tahun yang lalu aku meninggal karena penyakit yang ku
idap,” ujar Karin.
“Lantas E-mail yang kudapat kemarin dari siapa?” Mata Kazune
kini mulai berkaca-kaca melihat Karin.
“Aku mendatangi adik mu Kazusa dan memintanya mengirimkan
E-mail padamu, arwah ku sangat tidak tenang ketika blum bertemu dengan mu.”
“Kau jahat Karin, Kau tidak menepati janji mu.”
Rintikan hujan kini
mulai mengguyur tubuh kedua insan ini.
“Gomen na sai Kazunekun, tolonglah ikhlaskan aku,”
pinta Karin dengan memohon
“Dulu kau selalu mengajarkan ku untuk ikhlas, untuk sabar
dan memaafkan. Mungkin saat ini lah aku harus mengikuti perkataan mu.” lirih
Kazune dan sepertinya terdengar oleh Karin.
“Terima kasih Kazune-kun,” Karin tersenyum kembali dan
memeluk Kazune. Kazune pun memeluk erat tubuh Karin seakan masih ada rasa tak
mau kehilangan nya. perasaan nyaman di pelukan Karin, padahal Karin yang saat
ini adalah seorang arwah namun terasa sangat nyata di tubuhnya.
“Aishiteru Karin-chan,”
“Aishiteru mo,”
Tubuh Karin kini di kelilingi cahaya putih yang berkilauan,
“Kazune saatnya aku pergi,” ujar Karin melepaskan pelukan
nya dan sedikit demi sedikit tubuh Karin memudar. “SAYONARA”
“Sayonara Karin-chan,”
.
.
.
THE END

